Tampilkan postingan dengan label Renungan bersama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan bersama. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

Kumpulan tulisan ini adalah anak-anak zamannya. Lahir saat badai menerpa seluruh sisi kehidupan bangsa kita. Kumpulan tulisan ini adalah kerja kecil untuk tetap mempertahankan harapan dan optimisme kita ditengah badai itu.

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa.

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan kebumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali kelangit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.

Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Semangat untuk melakukan kerja-kerja besar dalam sunyi yang panjang itulah yang dihidupkan kumpulan tulisan ini. Maka tulisan-tulisan ini mencoba menghadirkan makna-makna yang melatari sebuah tindakan kepahlawanan. Bukan sekedar cerita heroisme yang melahirkan kekaguman tapi tidak mendorong kita meneladaninya.

Para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Jadi tulisan-tulisan ini adalah pesan untuk orang-orang biasa, seperti saya sendiri, atau juga anda para pembaca, yang mencoba dengan tulus memahami makna-makna itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung karya.

Sukses blog ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu-dua hati yang mulai tergerak, dan mulai bekerja, saya akan cukup yakin berdoa kepada Allah: “Ya Allah, Jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarku menuju ridha dan surga-Mu.

Anis Matta

Kamis, 17 Februari 2011

Luka Hati Seorang Gadis Kecil

Mereka semua berdatangan
Mereka mencoba membuatku tertawa
Mereka mengajakku bermain

Sebagian bermain untuk bersenang-senang dan
Sebagian untuk dikenang
Dan kemudian mereka pergi
Meninggalkan aku di tengah reruntuhan
permainan

Tanpa tahu yang mana harus dikenang dan
Yang mana untuk sekadar bersenang-senang dan
Meninggalkan aku dengan gema dari
Tawa yang bukan milikku

Lalu datanglah kau
Dengan caramu yang lucu
Tidak seperti orang lain

Dan kau membuatku menangis tersedu sedan
Dan tampaknya kau tidak peduli meski aku menangis
Kau bilang permainan sudah selesai
Dan menunggu
Sampai seluruh air mataku berubah menjadi ….
Kebahagiaan


Cinta yang memberi dengan keikhlasan ……
Untuk orang yang dicintainya bisa berekspresi secara wajar.
Cinta yang hanya bisa dirasa dengan Cinta.
Cinta dalam kesabaran yang tak putus ……..
Untuk sekadar mengajarkan sang anak mengerti dirinya
Cinta yang hanya bisa dibasuh dengan Cinta.

Cinta dalam lautan pengorbanan ………
Untuk merubah airmata menjadi kebahagiaan
Cinta yang hanya bisa diganti dengan Cinta.

Hanya waktu lah yang bisa menutup luka hati….
Hanya cinta lah yang dapat membasuh luka batin ….
Hanya kasih sayang lah yang sanggup mengobati luka nurani.


Cinta yang mampu memilah perbuatan yang benar atau salah.
Cinta yang mampu menolak budaya hedonis,
Cinta yang mampu meredam gemerlap dunia yang menyilaukan
Cinta yang mampu membawa kepada cahaya kebenaran-Nya.
Sebuah Utopia .....

Dimana sang cinta itu kini berada ?

Terlena dalam pelukan Bumi kah,
Atau tertidur lelap di kaki Sang Langit.

By: Dwi Irwanti ( 9 Ramadhan 1424 H/2003 M)

Bangkitlah kawan…..

Motivation is Love
…………………so keep smile n spirit coz Allah with you…………….

Selasa, 26 Oktober 2010

Tentang Hidup

TENTANG HIDUP

oleh : Andi Retman Chaniago

Sekali terlihat...... terbit rasa kasihan seorang anak kecil.. lebih kecil dari Izza putraku... berlari mengejar mobil atau motor yang berhenti di saat lampu berwarna merah.. sambil kadang memegang mainan... kadang kantong kresek hitam kecil... sang anak menengadahkan t...angan ke mereka yang lewat... kadang memegang barang-barang yang tergantung di motor... kadang diberi... kadang disuruh pergi... kadang hanya menggeleng.... dipojok dibawah lampu berwarna merah... sang ibu "sepertinya begitu" duduk menjulurkan kaki ke aspal yang berdebu... Malam terus berganti... telah hampir dua semesteran berlalu... dari tidak ada hypermart di depan Republika.... dari mulai pondasi dipancangkan... dari mulai bangunan berdiri tegak... dari mulai hypermart launching..... sampai ramai.... hingga tadi malam... Pemandangan yang sama tetap berulang.... si anak telah mulai agak besar.... telah bisa menepuk-nepuk paha orang yang lewat... mulai tidak beranjak ketika orang tidak mau memberi... telah bisa memasang muka memelas.... telah mulai bisa memaksa.... telah bisa menggeleng ketika orang menyuruhnya pergi... Sang Ibu "sepertinya begitu" masih menjulurkan kakinya di aspal berdebu... Tapi... ada yang baru.. dia punya bayi baru "sepertinya begitu" tapi melihat kehadirannya sejak hampir dua semester yang lalu.. yang hampir tiada absen.... sebagaimana juga saya melewati perempatan itu... mustahil dia hamil... "sepertinya begitu" mustahil dia melahirkan... "sepertinya begitu" Sekarang sang ibu "sepertinya begitu" punya dua orang... satu di Jalan... satu lagi masih dibedong... kadang dihapusnya hidung sang bayi... diantara malam yang kian larut... seperti malam-malam yang biasa saya lewati... pulang.... di atas sepeda motor keluaran 2005an saya hanya bisa menggeleng.... dan ingat anak-anak tersayang dirumah.... kok tega mengeksploitasi anak dan bayi sementara sang ibu ..."sepertinya begitu" masih menjulurkan kakinya di aspal berdebu... masih kah malam ini ... saya bertemu mereka lagi... duh! gambaran kehidupan... Kemang, disuatu malam Syafri Andi Retman *kalo anda lewat diatas jam 9malam diperempatan Republika dari arah Kemang atau Jl. Ampera... Jakarta Selatan sebelah kiri.... dibawah lampu merah... anda akan temui mereka....
Powered By Blogger

Cari Blog Ini