Tampilkan postingan dengan label Wushu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wushu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Mei 2010

Sejarah Berdirinya Wushu Indonesia

Wushu atau yang seringkali juga disebut Kungfu adalah Seni Beladiri yang berasal dari Tiongkok kuno. Tersebar keseluruh penjuru dunia melalui orang Tionghoa / Hua Ren yang pergi merantau.

Sejarah munculnya seni beladiri ini sudah tidak bisa ditelusuri lagi, konon usianya sudah ribuan tahun. Mungkin sama tuanya dengan sejarah Tiongkok yang dihiasi dengan banyak pertempuran. Dimana saat itu seni untuk bertempur dan mempertahankan diri sudah dikenal dalam bentuk yang masih sederhana.

Arti dari kata Wu adalah ilmu perang sedangkan arti kata Shu adalah seni. Sehingga Wushu dapat juga diartikan seni untuk berperang. Dimana didalamnya mengandung aspek seni, olahraga, kesehatan, beladiri dan mental.

Mempelajari Wushu sebenarnya tidak hanya terbatas pada hal-hal yang berhubungan dengan gerakan fisik belaka. Melainkan juga melibatkan pikiran, olah pernapasan, pemahaman anatomi tubuh, aliran darah dan jalur energi tubuh. Juga mempelajari penggunaan ramuan untuk memperkuat tubuh ataupun untuk pengobatan.

Disisi lain Wushu juga membentuk kepribadian, melatih kedisiplinan, ketahanan mental, kecerdikan, kewaspadaan, persaudaraan, jiwa satria dan lain sebagainya. Maka Wushu juga berfungsi sebagai ‘way of life’. Bahkan lebih jauh lagi bisa menjurus kearah pengembangan spiritual.

Di Indonesia sebenarnya Wushu sudah lama dikenal dengan istilah Kungfu. Tetapi barulah pada tanggal 10 November 1992 KONI pusat meresmikan berdirinya PB Wushu Indonesia yang merupakan wadah bagi seluruh Perguruan Kungfu di Indonesia.

Sejarah Shaolin Kungfu Naga Putih

Berasal dari China Utara yang konon tahun 1930 bernama Shaolinshe Naga Hitam yang memiliki 8000an teknik yang mematikan. Perguruan tersebut sangat disegani dan ditakuti oleh kalangan aliran beladiri mana pun karena memiliki teknik yang telah teruji dan sangat mematikan. Bentuk mau pun pola jurus yang di miliki Perguruan Shaolinshe Naga Hitam merupakan jurus Shaolin Kungfu yang sudah langka, yaitu aliran utara dan selatan.

Perguruan ini disebarkan ke Indonesia oleh Bhiksu She Han Giok, salah satu dari delapan Pendekar Shaolin terhebat kala itu. Selain untuk berdagang, Beliau masuk juga menyebarkan beladiri China. Tahun 1960 Beliau sampai di Malang, Jawa Timur, dan memutuskan untuk menetap di sana, tepatnya di Vihara Buddha Malang.

Di tempat tersebut, Beliau mengajarkan ilmu beladiri yang dikuasainya kepada anak dan kerabat-kerabatnya. Sistem pelatihan pada saat itu masih menggunakan metode kuno khas Shaolin yang terkenal sangat berat sehingga hanya lima orang murid saja yang bisa bertahan dan sampai meraih gelar master pada tahun 1985. Salah satu muridnya yang berbakat dan berhasil adalah Master Gatut Swardana, atau yang akrab disapa dengan Mas Dana,

Pada tahun 1970, perguruan Shaolin Kungfu ini telah berganti nama menjadi Perguruan Kungfu Shaolinshe Naga Putih. Ini disebabkan karena kata “hitam” memiliki konotasi negatif di masyarakat dan kurang disukai sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi nagatif. Namun demikian, maksud dan tujuan kata “hitam” sesungguhnya untuk menunjukkan teknik dan jurus yang sangat ampuh dan sulit ditandingi.

Bhiksu She Han Giok sendiri cukup dikenal oleh para praktisi beladiri setempat kala itu. Pada tahun 1971, Bhiksu She Han Giok sering dikunjungi oleh beberapa guru besar dan master dari beladiri Karate Inkai, tae kwon do, Karate Lemkari, Karate Kyokushinkaikan, dan Shorinji Kempo untuk belajad dan memperdalam teknik beladiri Shaolinshe.

Tahun 1990, Perguruan Shaolinshe Naga Putih mulai dikembangkan sampai ke Jakarta oleh murid Bhiksu She Han Giok yang ketiga, yaitu Mas Dana. Cabang pertama perguruan ini, yaitu di Universitas Gunadharma. Kemudian dikembangkan lagi di beberapa perguruan tinggi di Jakarta, seperti UI, IISIP, Universitas Pancasila, Poiteknik UI, IKIP, dan AKIP. Perguruan ini juga telah diakui oleh PB Wushu Indonesia sebagai salah satu Beladiri China resmi di Indonesia. Atas dasar ini tanggal 28 Juli tahun 1990 dianggap sebagai kelahiran Perguruan Shaolinshe Naga Putih.Tahun 2001, Perguruan Wushu-Kungfu Naga Putih melakukan restrukturisasi kepengurusan organisasi dan mengembangkan formula bisnis pelatihan beladiri untuk Satuan Pengamanan (satpam) perkantoran dan perhotelan. Walhasil, cabang perguruan ini bertambah, yaitu 12 Hotel Menteng Group dan Bank Mandiri Pusat.

Tahun 2008, darah mudah masuk ke perguruan ini. Tongkat manajemen yang mulai stagnan kemudian diestafet ke pengurus baru. Namanya pun diganti menjadi Kungfu Shaolinshe Naga Putih.

Pengembangan Perguruan Kungfu Shaolinshe Naga Putih masih terus dilakukan untuk dapat menyehatkan masyarakat serta mengabdi kepada bangsa dan negara.

doonukuneke.wordpress.com

Kung Fu Itu Chuan Fa, Tangan Kosong

Di Indonesia, Kung Fu bukan hanya seni bela diri. Di sini, seni olah tubuh, emosi dan tenaga dalam ini identik dengan kemampuan dan kehebatan pendekar negeri China.

Namun, menurut The Seng Kauw (43), satu dari 16 pelatih Perguruan Internasional Shaolin Indonesia Makassar, kung fu adalah seni mengelola emosi. “Kungfu bukan bukan untuk menaklukan lawan dengan jurus-jurus,” katanya kepada Tribun saat ditemui di pedepokan sekaligus, Jl Timor, Makassar. Lokasi pelatihan kungfu ada di GTC Tanjung Bunga Makassar.

Sung Kuaw yang juga akrab disapa Hendrik Tedjo ini, lalu menceritakan filosofi seni bela diri Shaolin Kungfu yang seumur dengan kebudayaan adiluhung China daratan.

“Kung fu itu, bagaimana menaklukan diri sendiri dengan jalan sabar, cegah emosi, hilangkan rasa ambisi, buang rasa keserakahan, kebodohan dan kemiskinan,” kata pria kelahiran 2 September 1966 dan akrab disapa The Seng Kauw ini lahir dan besar di Kota Makassar.

Hendrik sendiri adalah alumnus Akademi Accupuncture dan Accupressure yang kini berprofesi selain sebagai pelatih Kung Fu. Di sela-sela “profesi” itu, dia juga dikenal sebagai ahli terapis pijat dan urut kesehatan.

Untuk Menemukan Diri Sendiri
Kalau kita mendalami Kung Fu, yang utama adalah disiplin diri secara lahiriah dan batiniah. Makan harus cukup, tidurpun demikian. Latihan setiap hari pada pukul 07.00 atau jangan lewat pukul 10.00. Kalau punya kesibukan, boleh dialihkan sekitar pukul 19.00 atau jangan lewat pukul 22.00.Sehabis latihan, sebaiknya minum minuman bergizi atau paling tidak teh hangat.

Untuk menjadi profesional, tidak boleh bosan latihan. Artinya tiada hari tanpa latihan. Tanda tingkatan yang ada dalam perguruan Shaolin Kungfu ada tiga. (lihat Tingkatan di Kungfu)

Seperti simbol kuno warga suku Tionghoa yang mengenal istilah Yin dan Yang. Dimana pada hakekatnya kehidupan manusia, walau dirinya telah putih bersih, pasti di dalamnya tetap ada bintik hitam, yang sebaliknya walau kehidupannya hitam pekah, pasti pula ada bintik putih di dalamnya. Karena yang mengetahui diri kita, adalah diri kita sendiri bersama Sang Maha Pencipta.

Sabuk coklat
Menandakan pemula sebagai simbol warna tanah. Perhatikan kondisi keberadaan tanah, walau dicangkul, dilinggis, dibuangi kotoran dan dikencingi, tanah tidak pernah beraksi karena sifat sabarnya. Akan tetapi jangan coba-coba, jika tanah marah, akan mengakibatkan bencana besar, longsor dan lainnya.

Sabuk Merah
Merah bukan hanya sebagai simbol berani, melainkan simbol terang seperti merahnya matahari, disaat matahari bersinar maka segala aktivitaspun lancar sehingga manusia dapat bahagia, makmur dan sentosa. Dan kalaupun ketiganya telah didapatkan dalam diri kita sendiri, jangan lupa berbagi kepada orang lain, paling tidak curahkan cinta kasih kepadanya, siapapun orangnya.

Sabuk hitam
Menandakan kematangan, kematangan bukan berarti tertinggi. Semakin tinggi ilmu pengetahuan yang dipelajari, semakin kita akan merasakan tidak ada apa-apanya diri kita. Seperti warna hitam yang gelap, sebagai simbol proses pencarian jati diri untuk tetap belajar dan belajar sampai mati, karena kalau ada gelap, pasti ada terang. (mda)

tribun-timur.com
Powered By Blogger

Cari Blog Ini